Sabtu, 12 Januari 2019

3 Solusi Menekan Backlog Terhadap Rumah Dijual di Sidoarjo

Rumah Dijual Di Sidoarjo

Fenomena backlog masih umum terjadi di Sidoarjo. Secara umum, backlog merupakan ketimpangan antara jumlah rumah dijual di Sidoarjo yang banyak tidak sebanding dengan peminatnya. Angka ini bisa semakin membesar dari tahun ke tahun apabila tidak segera ditindaklanjuti. Lantas, bagaimana caranya menekan backlog? Temukan dalam 3 solusi ini.

1. Diperlukan Kerja Sama Developer dengan Pemerintah
Tidak semua developer atau pengembang mendirikan rumah di tempat-tempat potensial. Seperti di Sidoarjo, misalnya. Tidak semua titik tempat di Sidoarjo memiliki daya beli rumah yang tinggi. Akibatnya, bila rumah yang terbangun tidak diiringi dengan pembelian dan penempatan oleh warga, maka potensi kenaikan backlog tetap ada. 

Di sini diperlukan kerja sama dengan pemerintah. Siapa yang lebih tahu wilayah potensial untuk bangun rumah selain dari pemerintah? Pemerintah memiliki sejumlah pekerja yang handal. Terutama di bidang survei lokasi potensial. Sementara para pengembang hanya memiliki tim yang seringkali ala kadarnya. 

Pemerintah pula memiliki modal yang paling besar terutama dalam urusan pembelian. Bila kerja sama bisa terjalin apik dengan pemerintah, maka sesepi apa pun daerahnya, bisa ditumbuhkan dengan kiat-kiat tertentu. Sementara para pengembang membutuhkan modal untuk bisa bertahan dalam bisnis properti. 

Apabila pengembang nekat tidak ambil kerja sama, kemungkinan backlog tetap ada. Bisa jadi para pengembang justru mendirikan rumah di tempat-tempat yang jauh dari lokasi berkualitas. Jadi, kemungkinan untuk terbeli pun sangat minim. Sebaiknya ini menjadi kesadaran bersama. Kerja sama yang kuat akan melahirkan kesejahteraan.

2. Dibangun Kawasan Wisata
Pembangunan kawasan wisata cukup ampuh mendatangkan minat warga luar untuk berkunjung. Tapi tentu saja ini bagian dari agenda pemerintah. Ketika para pengembang sudah bekerja sama dengan pemerintah, penyiapan lahan strategis semacam ini tidak terhindarkan. Selanjutnya tinggal tunggu saja kenaikan secara stabil jumlah visitor-nya. 

Sidoarjo sejauh ini sudah punya banyak sekali tempat wisata yang bagus. Katakanlah seperti Pantai Kepetingan, Candi Pari, Museum Mpu Tantular, Kampung Batik Jetis, dan lainnya yang tentu juga tidak asing bagi para wisatawan. Bila jumlah wisata terus ditambah, secara tidak langsung akan menaikkan nilai tanah daerah setempat. Animo masyarakat tentang beli rumah akan terbangun pula.

3. Perbanyak Variasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
Sejauh ini, sudah ada beberapa variasi kredit perumahan yang cukup diminati oleh masyarakat umum. Setidaknya ada 7 yang cukup populer untuk menekan backlog dari segi jumlah rumah dijual di Sidoarjo. Untuk tahapan selanjutnya diharapkan lebih banyak lagi variasi KPR agar masyarakat luas bisa menilai sesuai kebutuhan mereka.  

Pertama, KPR Konvensional. Jenis KPR inilah yang paling sering diluncurkan ke masyarakat. Ciri khasnya pada tenor yang cukup panjang. Yakni sekitar 25 tahun dan maksimal 30 tahun. Hampir seluruh bank bisa menerapkan jenis KPR ini. Soalnya tidak ada subsidi. Sedangkan suku bunga diadopsi berdasarkan BI rate

Kedua, KPR Bersubsidi. Jenis KPR ini punya ciri khas adanya beban uang muka atau DP dengan nilai bunga lebih rendah dari yang konvensional. KPR ini khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Sehingga rumah yang ber-KPR bersubsidi pun maksimal dijual hanya 120 juta saja. 

Ketiga, KPR Syariah. Keuntungan yang paling terkenal dari KPR ini adalah tak adanya penerapan suku bunga. Alias Anda boleh mencicil berdasarkan harga asli rumah yang terbeli dari pengembang. Akan tetapi, masa tenor-nya relatif pendek. Yakni maksimal 15 tahun saja. Di atas itu sudah merupakan di luar kesepakatan.
Keempat, KPR Pembelian. KPR jenis ini mengharuskan rumah yang terbeli menjadi jaminan. Apabila tidak bisa dibayarkan secara lunas, bisa jadi akan dicabut. Kelima, KPR Refinancing. KPR ini mirip dengan KPR Pembelian, hanya saja ada perbedaan sedikit. Surat-surat terkait rumah yang terbeli juga ikut jadi jaminan.
Keenam, KPR Take Over. Hanya bank-bank tertentu saja yang menerapkan KPR take over. Tujuan dari take over ini adalah dengan mengambil pinjaman terhadap bank baru untuk kredit rumah dan menutupi seluruh hutang bank sebelumnya. Keuntungan satu-satunya yang didapat nasabah adalah adanya limit pinjaman yang semakin besar.
Ketujuh, KPR Angsuran Berjenjang. KPR ini juga tidak semua bank menerapkan. Salah satu bank yang menerapkannya itu Bank Mandiri. Ciri khas dari KPR ini adanya pembolehan masa penundaan angsuran pokok sampai tiga tahun masa pinjaman. Semakin bervariasi KPR, tentu akan membuat potensi backlog menurun.

Saat ini, permasalahan backlog tengah menjadi permasalahan yang serius. Pemerintah masih terus memutar cara bagaimana agar backlog bisa ditekan hingga 0%. Tentu saja untuk memaksimalkan pembelian rumah dijual di Sidoarjo diperlukan kerja sama dengan banyak pengembang. Kalau perlu seluruh pengembang bisa bekerja sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar